Ida Mpu Kuturan datang ke Bali

Standard

Menjangan

Dalam Lontar Tutur Kuturan, disebutkan bahwa ketika Ida Mpu Kuturan datang ke Bali, ada seekor manjangan (rusa) yang menghampiri beliau dan menawarkan diri untuk ditunggangi menuju Bali. Beliau ‘mendarat’ di Cekik.

Tempat itu bernama cekik karena Ida Mpu Kuturan agak keras memegang leher Manjangan itu, berdasar firasat bahwa beliau sudah sampai di Bali. Si Manjangan lalu turun ke bumi. Tempat itu sampai sekarang bernama hutan Cekik (pertigaan Negara – Singaraja).

Manjangan itu dipercaya mengembangkan keturunan di sana, yang hingga kini masih tercatat sebagai hewan yang dilindungi UU. Namun sayang banyak pemburu gelap yang main tembak di sana.

Dari Cekik beliau berjalan kaki menuju istana Raja Udayana Warmadewa yang ketika itu berada di Serai (dekat Kintamani).

Kejadian itu pada abad ke-11, tepatnya tahun 1011 M.

Ida Mpu Kuturan, lama menetap di Serai kemudian pindah ke Bedahulu (Bedulu) mengiringi Raja Udayana Warmadewa bersama permaisurinya Gunapria Dharmapatni. Ida Mpu Kuturan, selain sebagai purohita (pendeta kerajaan, penasihat Raja), juga sebagai Senapati dengan gelar: ‘Pakiran-kiran I Jero Makabehan’

Beliau berhasil menyatukan 9 sekte yang ada di Bali: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, Brahma, Saiwa, Bhairawa. Persatuan itu diikrarkan di Pura Samuan Tiga, dan konsep beliau dikenal sebagai konsep Trimurti.

Pura Silayukti (Karangasem) adalah tempat di mana beliau ‘Moksah’ seperti halnya jejak beliau diikuti oleh Danghyang Nirartha setelah 3 abad berikutnya, namun Danghyang Nirartha memilih tempat moksahnya di Puru Uluwatu (Badung), sedangkan Bhatara Ida Ayu Swabhawa, memilih moksah di Pulaki (Buleleng). Kalau Ida Maha Rsi Markandeya, moksah di Bukit Bujangga terletak di Desa Sepang (Buleleng).

Advertisements

Mpu Kuturan

Standard

Mpu Kuturan merupakan salah satu dari Panca Pandita yang tiba di Bali pada hari Rabu Kliwon wuku pahang, maduraksa (tanggal ping 6), candra sengkala agni suku babahan atau tahun caka 923 (1001M) yang berkaitan dengan Siwa Buddha yang ada di Bali, selanjutnya berparhyangan di Pura Silayukti (Padang).

Dari adanya lontar Calon Arang dapat diketahui bahwa Mpu Kuturan berasal dari Jawa Timur yaitu di suatu tempat bernama Girah, dan disanalah beliau pernah berkuasa sebagai seorang Raja. Beliau berangkat dan menetap di Bali didorong oleh tiga factor penyebab yaitu:

  1. Memenuhi permintaan raja suami istri Gunaprya Dharmapatni & Udayana Warmadewa yang bertahta di Bali pada tahun caka 910 sampai dengan 988 atau tahun 988M sampai dengan tahun 1011M, yang memerlukan keahlian beliau dalam bidang adat dan agama untuk merehabilitasi dan mestabilisasi timbulnya ketengangan-ketegangan dalam tubuh masyarakat Bali Aga
  2. Karena bertentangan dengan istri beliau yang menguasai magic. Sebab itu istri beliau ditinggalkan di Jawa yang dijuluki “Walu Natheng Girah” atau “Rangda Natheng Girah” (jandanya Raja Girah)
  3. Sebagai bhiksuka atau Sanyasa, beliau lebih mengutamakan ajaran dharma dari pada kepentingan pribadi

Kesempatan yang baik itu beliau pergunakan untuk untuk datang ke Bali, karena dorongan kewajiban menyebarkan dharma. Selain Senapati, beliau juga diangkat sebagai sebagai ketua Majelis ”Pakira kiran I Jro makabehan:, yang beranggotakan sekalian senapati dan para pandita Ciwa dan Budha. Dalan suatu rapat majelis yang diadakan di Bataanyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu, yaitu

  • Dari pihak Budha Mahayana diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidang
  • Dari pihak Ciwa diwakili oleh pemuka Ciwa dari Jawa
  • Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali, yg terdiri dari berbagai aliran. Tatkala itu semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan yang layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi dari Sang Hyang Widhi Wasa.
Konsesus yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, dimana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut “Ciwa Budha” sebagai persenyawaan Ciwa dan Budha. Semenjak itu penganut Ciwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya yaitu Pura “Kahyangan Tiga” yang menjadi lambang persatuan umat Ciwa Budha di Bali.
Di Bali, Salah satu nama Tuhan adalah Sang Hyang Mbang atau Mahasunyi yang dalam agama Buddha ada istilah Sunyata. Tahun baru di Bali dirayakan dengan sunyi (sunyata). Di Bali Selatan, ada Pura Sakenan yang puncak piodalannya jatuh pada Hari Raya Kuningan. Sementara Sakenan berasal dari kata Sakyamuni. Sakyamuni nama asli Sidartha Gautama.
Mpu Kuturan sendiri adalah pendeta Buddha yang peninggalannya adalah Meru, hasil modifikasi Pagoda umat Buddha.
Pada Abad ke-16, Bali mengalami masa kejayaan di bawah Raja Dalem Waturenggong. Dalam masa kerajaan itu ada penasihat spiritual yaitu pendeta Siwa-Buddha. Peninggalannya berupa Padmasana.

Tentang adanya Mpu Kuturan di Bali dapat diketahui dari 7 prasasti peninggalan purbakala, dimana disebutkan bahwa Mpu Kuturan di Bali berpangkat “Senapati”, dan prasasti-prasasti tersebut kini masih terdapat:

  1. Di desa Srai, kecamatan Kintamani, kabupaten daerah tinggkat II Bangli, bertahun Caka 915 atau 993M
  2. Di desa Batur, kecamatan Kintamani, kabupaten daerah tingkat II Bangli, bertahun caka 933 atau 1011M
  3. Di desa Sambiran, kecamatan Tejakula kabupaten tingkat II Buleleng, bertahun caka 938 atau 1016M
  4. Di desa Batuan, kecamatan Sukawati kabupaten tingkat II Gianyar bertahun caka 944 (1022M)
  5. Di desa Ujung Kabupatendaerah tingkat II Karangasem bertahun caka 962 (1040M)
  6. Di Pura Kehen Bangli, kabupaten tingkat II Bangli, karena sudah rusak tidak tampak tahunnya
  7. Di desa Buahan, kecamatan Kintamani, kabupaten daerah tingkat II Bangli bertahun caka 947 (1025M)

Sekian banyaknya prasasti sebagai fakta sejarah yang mencantumkan nama Mpu Kuturan sebagai Senapati di Bali.(ref1)

Dan menurut salah satu komentar di forum diskusi jaringan hindu nusantara (ref2), adapun sekte – sekte di Bali yang dipersatukan Mpu Kuturan pada waktu pemerintahan Raja Udayana menjadi tiga, yaitu Siwa, Budha, dan Waisnawa. Kesembilan sekte itu adalah:

  1. Brahmana.
  2. Bodha atau Sogatha.
  3. Bhairawa
  4. Ganapatya
  5. Pasupata.
  6. Rsi.
  7. Sora
  8. Waisnawa
  9. Siwa Sidantha

Demikian sekilas tentang perjalanan Mpu Kuturan di Bali.

Upacara Otonan atau 6 Bulan atau 210 Hari atau Potong Rambut

Standard
Potong Rambut

Otonan

Upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon atau otonon atau ngenem bulanin. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna. Tetapi di sebagian masyarakat Bali Upacara ini sering juga dilakukan pada saat 3 Oton atau Telung Oton atau 630 Hari, tergantung desa kala patra dan kebiasaan dari keluarga terdahulu si bayi.

Pada saat itu kita akan bertemu dengan hari yang sama seperti saat lahimya si bayi (pancawara, saptawara, dan wuku yang sama). Selanjutnya boleh dilaksanakan setiap 210 hari, semacam memperingati hari ulang tahun. Tentu saja semakin dewasa, semakin sederhana bantennya.

Seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah, Upacara dipimpin oieh Pandita / Pinandita / tergantung desa kala patra dan kebiasaan keluarga terdahulu.

Upacara ini menurut sebagian masyarakat Bali sering disebut Upacara Potong Rambut dari si Bayi, yang melambangkan membuang unsur-unsur negatif dari si Bayi.

Upacara Nelu Bulanin atau Tiga Bulan Bali atau Niskramana Samskara

Standard
Natab ring Natah

Natab ring Natah Tiga Bulanan

Upacara ini dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari, atau tiga bulan dalam hitungan pawukon. Bila keadaan tidak memungkinkan, misalnya, keluarga itu tinggal di rantauan dan ingin upacaranya dilangsungkan bersama keluarga besar sementara si anak terlalu kecil untuk dibawa pergi jauh, upacara bisa ditunda. Biasanya digabungkan dengan upacara 6 bulan

Upacara cara ini bertujuan untuk matur piuning kepada Dewa Brahma – Wisnu – Iswara agar si Bayi dibersihkan, bebas dari semua penderitaan.

Dilaksanakan di Bale Dangin (Rumah untuk Manusa Yadnya) dan di Natah (Halaman Rumah).

 

Tutug Kambuhan atau A Bulan Pitung Dina atau Upacara 42 Hari

Standard

Seorang bayi yang telah berumur 42 hari atau biasa di sebut “a bulan pitung dina” yang artinya satu bulan bali + 7 hari. Satu bulan Bali sama dengan 35 hari (5 minggu), jadi 1 bulan 7 hari sama dengan 42 hari. Oleh karena upacara ini dilakukan pada seorang manusia (bayi) maka di dalam Panca Yadnya upacara 42 hari ini termasuk dalam kelompok Manusa Yadnya.

Upacara bayi 42 hari ini umumnya dilakukan oleh umat Hindu khususnya yang ada di Bali, dalam adat Jawa mungkin juga ada upacara serupa. Pada umumnya upacara 42 hari ini dilakukan sendiri-sendiri bagi setiap bayi dan dilakukan di rumah masing-masing. Upacara untuk bayi yang berumur 42 hari ini lebih dikenal dengan nama upacara Upacara Tutug Kambuhan.

Pelaksanaan upacara 42 hari (Tutug Kambuhan) biasa nya dilakukan di kamar tempat tidur si bayi dan di tempat ari-ari ditanam, yang sebelumnya di dahului matur piuning di Sanggah (Rong Telu) dan pelinggih Ibu (Dewa Hyang), di Bali kadang pelaksanaany sedikit berbeda-beda namun maknanya tetap sama. Tujuan dan makna upacara Tutug Kambuhan adalah sebagai ucapan terima kasih kepada “Nyama Bajang” yang merupakan manifestasi kekuatan Ida Sang Hyang Widhi / Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu tujuan upacara ini adalah melakukan pembersihan kepada sang Ibu dan bayinya.

Upacara Ngerorasin atau 12 Hari

Standard
12 Hari

Upacara ngerorasin

Di Bali upacara yang umumnya pasti dilakukan setelah bayi lahir adalah upacara Ngerorasin, berasal dari kata roras yang dalam bahasa Bali artinya 12. Upacara ini dilakukan tepat saat bayi telah berumur 12 hari. Upacara ngerorasin biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang dituakan atau bisa juga oleh seorang Pemangku. Upacara ngerorasin dilakukan di pekarangan rumah yaitu di dapur (Brahma) dan sanggah kemulan. Tujuan dan makna upacara ngerorasin ini secara umum adalah untuk melakukan pembersihan terhadap ibu dan bayinya. Kejadian melahirkan secara niskala dianggap kotor / leteh. Sehingga setelah upacara ini ibu dan bayinya sudah bersih dan suci kembali. Umumnya, sebelum upacara ngerorasin sang ibu tidak diperkenankan memasuki daerah suci seperti masuk ke sanggah kemulan. Menurut Babad Bali, upacara ngerorasin ini disebut dengan upacara Upacara Ngelepas Hawon.

 

 

Puja Trisandya, Kramaning Sembah, dan Me-Saiban

Standard

Puja Trisandya dilaksanakan tiga kali sehari karena menurut Lontar Niti Sastra, kita sebagai penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta memuja Matahari (Surya) sebagai keagungan dan kemahakuasaan Hyang Widhi. Matahari juga sumber energi atau sumber kehidupan.

Pemujaan itu dimulai pagi-pagi menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari maksimum, dan sore hari ketika matahari menjelang “tenggelam” (sekitar jam 18.30).

Trisandya terdiri dari dua kata, yaitu “Tri” artinya tiga, “Sandya” artinya sembahyang. Jadi Trisandya artinya sembahyang tiga kali sehari. Puja Trisandya diucapkan secara lengkap keenam baitnya, karena tiga bait pertama adalah puja-puji kepada Hyang Widhi, dan tiga bait terakhir adalah permohonan ampun dan kepasrahan kepada-Nya.

Bait pertama disebut Mantram Gayatri, dapat digunakan dalam waktu sempit/ penting misalnya sebelum berangkat (starter) kendaraan, ketika akan menyeberang sungai, menjelang, dan setelah kelahiran bayi, mendoakan orang sakit agar lekas sembuh, dll.

Setelah mengucapkan Puja Trisandya, sembahyang Kramaning Sembah.

Maturan sehari-hari (pagi setelah masak) disebut me-saiban. Bantennya canang sari berisi semua jenis makanan yang dimasak hari itu.

Tempat-tempat maturan saiban diatur dalam Manawa Dharmasastra Tritiyo Dhyayah sloka ke-68:
PANCA SUNA GRHASTHASYA CULLI PESANYU PASKARAH, KANDANI CODA KUMBHASCA BADHYATE YASTU WAHAYAN

Artinya: Seorang kepala keluarga mempunyai lima macam tempat penyembelihan, yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung dan alunya, tempayan tempat air dengan pemakaian mana ia diikat oleh belenggu dosa.

Maksudnya di lima tempat itu keluarga telah melakukan pembunuhan secara sengaja atau tidak sengaja terhadap mahluk-mahluk hidup yang dapat dilihat mata maupun tidak; karena Hindu mengenal kepercayaan Ahimsa maka pembunuhan itu adalah dosa.

Selanjutnya sloka ke-6:
TASAM KRAMENA SARWASAM NISKRTYASTHAM MAHARSIBHIH, PANCA KIRPTA MAHAYAJNAH PRATYAHAM GRHAMEDHINAM

Artinya: Untuk menebus dosa yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu para Maha Rsi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.

Yang dimaksud Panca Yadnya setiap hari adalah mesaiban, selain kelima tempat itu sebagai perwujudan Bhuta Yadnya, juga ke Pelinggih Dewa-Dewi: Padmasari, Kemulan Rong 3, dll. sebagai Dewa Yadnya, Pelinggih Maha Rsi Mpu Kuturan: Manjangan Sluang, Taksu (Linggih Dewi Saraswati), dll. sebagai Rsi Yadnya, Pelinggih Hyang Kompiang sebagai Pitra Yadnya, dan setelah itu barulah segenap keluarga makan sebagai wujud Manusa Yadnya.

Pelinggih seperti: Pengerurah, Jero Gede, Sedahan Karang, dll. adalah pelinggih Bhatara Kala.

Pelinggih di Kamar Suci seperti Dewa Ayu Melanting, Pejenengan, dll. adalah simbol Dewa-Dewi, sedangkan pelangkiran di kamar tidur adalah pelinggih Kanda Pat (saudara di niskala).

Urut-urutan mesaiban, mulai dari pelinggih-pelinggih: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta.

Mesaiban di masing-masing pelinggih/ tempat pembunuhan seperti diuraikan di atas, dan sembahyang boleh dilakukan hanya di depan Piasan.

Mantram ketika maturan boleh dengan sesontengan bagi Walaka, namun bagi Ekajati dan Dwijati, minimal menggunakan Puja Tribhuwana.